Tidak habis-habis View melayangkan pertanyaan. Bisa jadi wartawan pun kalah saing. Ini hari ketiganya bekerja di kediaman Tuan Jimmy Potiwihok. Hampir tiada hari dilalui tanpa pertanyaan kepada Piploy yang sudah lebih dahulu bekerja di rumah ini. Sangat wajar menurutnya untuk ukuran anak baru, tetapi benar, hari ini adalah puncak. Segala sesuatu dirasakannya membingungkan, serba mengundang tanda tanya.
Misalnya, “Kenapa Mbak memasak ciakpo?”
Setahunya ciakpo bukan menu yang lazim dipilih sebagai jamuan. Di rumah majikan lamanya, hanya nyonya majikan yang pernah menyantap ciakpo, itu pun lantaran nyonya majikan baru melahirkan. Konon ciakpo dipercaya mujarab memulihkan kondisi tubuh pascapersalinan. View percaya khasiat ciakpo bukan bualan semata. Buktinya, tepat di hari keempat pascapersalinan, nyonya majikan kuat memukulinya membabi buta dengan gagang sapu!
Piploy menjawab, “Karena Tuan Sea belum lama melahirkan.”
Oh. View paham sekarang. Masuk akal baginya. Tamu yang disebutkan Piploy ternyata belum lama melahirkan. Menurutnya Piploy patut diacungi jempol, sangat perhatian dengan kondisi tamu. Mungkin karena Tuan Sea masih keluarga dengan Tuan Jimmy seperti yang dikatakan Piploy pagi tadi.
Tidak lama, pertanyaan lain meluncur lagi dari bibir View. “Kenapa panci ini harus ditaruh di ruang tamu?”
Setahunya orang kaya tidak makan berat di ruang tamu. Menjamu tamu dengan panci, terlebih di ruang tamu, jelas bertentangan dengan etiket. Rumah Tuan Jimmy dilengkapi ruang makan yang tidak sempit. Piploy membersihkannya dengan sangat telaten setiap hari, memastikan ruangan bergaya Skandinavia modern itu tetap bersih mengilap. Setiap pagi, bunga mawar dalam jambangan diganti. Bahkan, hari ini Piploy mendekorasinya dengan gelas-gelas kecil berisi mahkota bunga melati segar. Tidak ada yang lebih elok di rumah ini selain ruang makan untuk mengajak tamu bersantap. Pemandangan panci besar berisi ciakpo berkepul di meja ruang tamu menjauhi kelaziman di mata View. Kalau ini terjadi di rumah majikannya yang lama, View yakin bukan tidak mungkin ia kena tempeleng. Sekarang pun View khawatir, kalau-kalau Nyonya Punpun sekonyong-konyong turun ke lantai satu dan melayangkan protes.
Piploy menjawab, kalem seperti sebelumnya. “Tuan Sea datang dari jauh. Sampai di sini pasti kelaparan. Lagipula dia tidak akan keberatan makan di ruang tamu.”
Oh. View mengangguk-angguk paham kendati batin membuka ruang untuk dihinggapi heran. Baru kali ini ia mendengar ada orang kaya yang tidak keberatan makan di ruang tamu. Coba bandingkan dengan majikan lamanya. Nyonya majikan tidak segan menyalak hanya karena memergoki anak perempuannya melahap cookies di ruang tamu!
Tuan Sea itu, kemungkinan tipikal orang kaya yang tidak merepotkan. Kekhawatiran bakal melakukan kesalahan saat menyambutnya nanti sedikit luntur. Besar harapan View untuk menutup hari ini dengan tenang. Demi Tuhan, sekarang hampir pukul dua belas malam!